Dinilai berhasil melaksanakan lima pilar STBM dan PHBS secara baik
Biak - Pelaksanaan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang berlangsung di kampung Komboi, Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, tahun ini akan dijadikan sebagai kampung pelopor di Provinsi Papua. Sekaligus sebagai kampung percontohan dari 14 kampung yang berada di Distrik Warsa. Indikator penilaian kampung pelopor, diukur dari plaksanaan sarana lima pilar STBM serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), yang telah berlangsung cukup baik di kampung tersebut. Koordinator Tenaga Lapangan STBM Distrik Warsa, Yuyun Warbal mengatakan, dampak pelaksanaan STBM telah memicu perilaku warga kampung Komboi untuk tidak membuang kotoran air besar disembarang tempat, dan tingkat kesadaran warga kampung untuk mencuci tangan pakai sabun sudah cukup baik. Lanjut kata Yuyun, masyarakat kampung komboi kini semuanya telah memiliki jamban keluarga. Selain itu, masyarakat juga telah memahami cara pengelolaan air minum rumah tangga dan makanan, serta pengelolaan sampah rumah tangga dan limba cair. Keberhasilan kampung komboi sebagai kampung percontohan STBM di distrik Warsa, tidak terlepas dari kerja keras para tenaga relawan yang berjumlah 15 orang di kampung tersebut. “Yang jadi indikator penilaian dipengaruhi adanya pelaksanaan lima pilar dan perilaku hidup sehat sudah semakin baik di kampung Komboi ini, sehingga akan menjadi contoh bagi kampung-kampung lain,” katanya kepada Bintang Papua, Jumat (17/2). Kampung Komboi merupakan salah satu dari 14 kampung di distrik Warsa yang melaksanakan program Sanitation Hygiene and Water (SHAW) melalui pendekatan program STBM. Kampung Komboi terletak di pantai utara Biak berhadapan langsung dengan lautan samudera Pasifik. Di kampung ini terdapat dua dusun, dengan jumlah penduduk sebanyak 394 jiwa dan terdiri dari 80 kepala keluarga.
Sementara Manajer Program SHAW, Ishak Matarihi mengatakan, masyarakat kampung Komboi mengenal program STBM berawal dari surat masuk dari kepala kampung kepada Yayasan Rumsram sebagai pengelola program SHAW. Dan setelah melalui sosialisasi dan persiapan, pada Maret 2011 dilanjutkan dengan pelatihan fasilitator STBM yang diikuti 40 orang peserta, masing-masing 15 orang dari Komboi dan 25 orang dari dua kampung tetanga. Pelatihan ditindak lanjuti dengan triggering pada dusun di masing-masing kampung. Namun kehadiran warga kampung saat itu sangat minim, program tersebut dinilai sebagai program yang tidak ada uangnya. “Saat itu masyarakat yang menghadiri pemiciuan di masing-masing dusun di kampung Komboi sangat sedikit karena masyarakat sudah mendengar bahwa program STBM tidak ada uang bantuan atau non subsidi,” kenangnya. Namun dengan minimnya masyarakat yang hadir pada pemicuan pertama justru membuat para relawan (kader) STBM Kampung Komboi berkomitmen untuk menjadikan seluruh rumah tangga yang tidak hadir sebagai target dengan cara mendatangi rumah penduduk dan melakukan promosi lima pilar STBM. Dengan terpilihnya kampung komboi sebagai kampung percontohan, maka dalam tahun ini akan dideklarasikan sebagai salah satu kampung pelopor STBM di Provinsi Papua. Keberhasilan kampung komboi ini, tidak terlepas dari upaya pendampingan tim STBM Yayasan Rumsram yang bekerjasama dengan lembaga donor Simawi asal negeri Belanda, serta didukung Pokja AMPL Dinas Kesehatan dan Badan Pemberdyaan Masyarakat Kampung (BPMK) di daerah ini. (pin/lo2)
|