Industri Berbasis SDA Daerah Perlu Ditingkatkan

JAYAPURA – Saat ini diperlukan peningkatan pengembangan industri berbasis Sumber daya Aalam (SDA)  [ ... ]


1.500 ekor Labi-Labi Moncong Babi Dilepasliarkan

SENTANI - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dengan menggandeng pihak PT Freepor [ ... ]


Dewan : Di Sentani Timur Banyak Guru SD Malas

SENTANI - Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura Frangklin Wahey, S.Sos menemukan sejumlah guru di D [ ... ]


Jumat, 18 Mei 2012
Home Biak HIV dan AIDS di Papua Sifatnya Nomaden
HIV dan AIDS di Papua Sifatnya Nomaden PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh redaksi binpa   
Selasa, 21 Februari 2012 22:50

Frengki KorwaBiak- Pemahaman dan pola kebiasaan berpindah (nomaden) masyarakat di Papua tampaknya masih menjadi indikator utama sulitnya penderita HIV dan AIDS ditekan. Dalam kurun waktu 2009-2011 terdapat 28 kasus HIV/AIDS, delapan di antaranya berprofesi sebagai PNS. Penyakit ini merupakan penyakit menular mematikan setelah Malaria. Khusus di Sentani saja, dari 95 persen yang diperiksa, teridentifikasi penyakit malaria sekitar lima persennya.
Pada 2008 lalu, pemerintah membagikan kelambu kepada masyarakat dan terdapat penurunan yang terkena malaria, namun, saat program itu berhenti, jumlah penderita kembali meningkat.
Terkait HIV dan AIDS, Kepala Puskesmas Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Dian Gritnowati mengatakan upaya melokalisasi penderita HIV/AIDS menjadi sulit karena tidak diketahui di mana tempat domisili si penderita. “Ada kasus, satu nama bisa digunakan oleh banyak orang. Uniknya satu sama lain tidak saling kenal dan dari suku yang berbeda, sehingga menyulitkan kami dalam melakukan lokalisasi,” katanya kepada Bintang Papua di Sentani, Senin lalu.
Ia mengungkapkan penyebaran HIV/AIDS di Papua justru banyak terjadi di jalanan, bukan di tempat penampungan. Hal ini yang kemudian sulit dilakukan penyuluhan karena terjadi spontan. “Tidak ada unsur paksaan, dari berbagai suku bertemu di mana saja dan bisa terjadi hubungan badan. Saya istilahkan heteroseks. Beda jika di tempat penampungan yang bisa kami lakukan penyuluhan,” ungkapnya. Sebenarnya, kata Dian lewat ibu-ibu hamil dan menyusui penderita HIV dan AIDS ini bisa terdeteksi karena mereka rutin melakukan pemeriksaan. Di saat itulah bisa diketahui apakah mereka mengidap HIV/AIDS atau tidak. “Warga enggan memberitahukan kepada kami apakah ada keluarganya yang terkena HIV/AIDS karena malu. Saat ada istri yang memberitahukan justru dianiaya,” ujarnya.
Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengaku bahwa penanggulangan HIV/AIDS menjadi konsen pemerintah. Sejak dua tahun lalu terus diupayakan agar masyarakat yang terkena bisa diminimalisasi. Namun, kata Endang dibutuhkan kesadaran dari masyarakat setempat tentang betapa bahayanya penyakit ini bagi diri dan keluarganya. “Bagi penderitanya kami upayakan tetap mendapatkan kesempatan yang sama dalam dunia kerja. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk menampung mereka,” kata Menkes usai meresmikan Politeknik Kesehatan, Kemenkes Jayapura pada Senin lalu. (pin/don/l03)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Editorial

Bual – Bualan Poli”Tikus”

Perdasus Pilgub masih menjadi pertentangan, masing – masing pihak bertahan dalam asumsi dan pandangan hukum masing – masing, yang menurut mereka adalah kebenaran dan atas nama rakyat, namun semuanya bermuara pada satu ajang perebutan kekuasaan demi mempertahankan kepentingan diri,  kelompok dan golongan masing – masing.
Konsekuensi dari pertentangan tersebut sudah pasti molornya pelaksanaan Pilgub di Provinsi Papua, dan sudah molor 8 bulan lamanya, tidak dapat dipungkiri akar masalah molornya itu adalah karena masih adanya pihak yang sangat berambisi untuk menjadi penguasa di atas Tanah Papua ini, demi obsesi pribadi dengan berlindung di balik nama hak warga negara, dengan memanfaatkan celah hukum dan kesemrawutan tata hukum di negara bernama Republik Indonesia ini.
Penafsiran – penafsiran hukum untuk serangkaian kosa kata yang jelas, terkadang dipelintir sedemikian rupa sehingga masyarakat dianggap tidak mengetahui apa niat dan maksud yang tersembunyi di balik itu semua.
Tapi it [ ... ]


Opini

ANEKSASI, POLITISASI DAN EKSPLORASI JARGON USANG TANPA DASAR

Anggota Kongres Amerika Serikat Eni Faleomavaega menegaskan pihaknya tidak mendukung kemerdekaan Papua, tetapi menyetujui otonomi khusus bagi provinsi itu sebagaimana Republik Indonesia memberlakukannya di Aceh. “Eni Faleomavaega, berharap pemberlakuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua secara serius dan konsisten oleh pemerintah RI,” demikian, dilaporkan anggota Kaukus DPR RI-AS Eva Kusuma Sundari dari Washington D.C. kepada ANTARA di Semarang, Kam [ ... ]


Tanggapan Berita

Kirimkan tanggapan anda Via SMS ke Nomor 081248802200 terhadap EDITORIAL Bintang Papua hari ini. Untuk tanggapan yang di nilai terbaik akan mendapatkan souveneir (Cinderamata) khas Bintang Papua. Tanggapan anda juga dapat di akses di http://bintangpapua.com

Pace Bintul