Melihat dari Dekat SD-SMP di Kampung Yanggandur Merauke
‘Tra’ Ada Guru, Anggota Satgas Yonif 142/KJ Jadi Guru
Selain piawai mengokang senapan menjaga keutuhan NKRI di daerah perbatasan, untuk membantu menghidupkan dunia pendidikan anggota Satgas Yonif 142 / Ksatria Jaya rupanya juga piawai memainkan kapur di papan tulis, bentuk nyata sumbangsih mereka untuk pendidikan anak – anak di Papua. Bagaimana kisah mereka? Berikut bincang-bincang mereka dengan Bintang Papua
Laporan : Lidya Salmah Ahnazsyiah-Merauke
Senin (20/2) pagi sekitar pukul 07.30 WIT, tiga orang anggota berseragam loreng tengah mengatur sekitar 61 murid SD YPPK Santo Fransiskus Xaverius Yanggandur baris berbaris di halaman upacara SD tersebut. Serda Wahyu, Kopda Andy Irawan dan Praka Jambari yang selidik punya selidik rupanya adalah guru bantu di SD itu. Ketiganya anggota Satgas Yonif 142/KS itu sedang mengarahkan muridnya dari kelas I hingga VI untuk melaksanakan upacara bendera. Praktis, upacara bendera yang diawaki sejumlah murid SD itu berjalan baik atas bimbingan pak guru ‘loreng’ itu. “Kita harus membiasakan mereka upacara dari sekarang, karena dengan begini mereka akan menghargai negara dan para pejuang kita yang dengan pengorbanannya bisa mengibarkan bendera Merah Putih kita ini,”celetuk salah seorang guru’tentara’ itu kepada Bintang Papua. Mengatur anak usia belia di tingkat SD memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, butuh kesabaran yang tinggi untuk menghadapinya. Apalagi para guru’tentara’ itu berangkat dari latar belakang yang berbeda, yakni doktrin militer yang kental. Namun begitu, dalam praktek mengajar di lapangan, tak nampak sikap militer mereka, namun sebaliknya mereka penuh dengan kasih sayang seperti seorang bapak dan anak.
“Kalian tidak perlu takut dengan bapak, bapak ini hanya bajunya saja yang loreng dan terkesan garang. Tapi kami ini baik dan tujuan kami adalah ingin kalian sekolah biar bisa merajut cita-cita kalian seperti teman kalian yang di kota,”ucap Serda Wahyu ketika bertindak sebagai Inspektur Upacara di hadapan para muridnya. Usai upacara satu per satu murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Karena saat itu kelas digabung mengingat keterbatasan guru yang sementara ini sedang mengikuti kegiatan guru di Distrik Sota. Sehingga untuk mengoptimalkan dan mengefektifkan proses belajar mereka, para guru yang ada mengintegrasikan kelas V dan kelas VI begitupun dengan kelas lainnya. Dari pantauan Bintang Papua, prosesi belajar mengajar di SD tersebut berjalan dinamis. Tidak ada kesan canggung dari tiga tentara ‘guru’ itu tatkala berinteraksi dengan muridnya. Bagi mereka yang mengajar itu, ini bukan hal baru karena semasa tugas di Aceh sebelumnya, mereka sempat ‘nyambi’ juga menjadi guru bantu karena ketiadaan guru di medan tugas. “Kalau saya sudah pernah ngajar di Aceh mbak. Jadi sudah nggak grogi lagi karena sudah biasa,”papar Praka Jambari yang kala itu mengajar bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam). Sementara itu Lettu Husnen EF, Komandan Pos Yanggandur yang turut mengajar bidang studi Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN) di SMP Persiapan Negeri Yanggandur mengakui, punya nilai tersendiri ketika mengajar anak-anak itu. Pasalnya, kata Husnen, ia dan tiga anggotanya hanya punya niat tulus yakni ingin memotivasi anak-anak Yanggandur untuk bersekolah meskipun sarat dengan keterbatasan. Husnen bercerita, ketika ia mengajar anak-anak itu, terbesit dalam benaknya akan sosok anak-anaknya yang sedang ditinggal tugas ke medan seperti ini. Sebab itu, ia merangkul anak-anak itu layaknya anak kandung sendiri sehingga mereka lebih termotivasi untuk ke sekolah melaksanakan aktivitas belajar. Tambah pria asal Sumatera itu, kemampuan ia dan anggotanya memang tidak sebanding dengan para guru yang memang sudah berangkat dari disiplin ilmu sebagai seorang pendidik. Namun, dengan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh selama mengenyam bangku sekolah ditambah dengan pengetahuan tambahan dari buku panduan, mereka bertekad membantu mendidik anak Yanggandur sesuai kemampuan mereka. “Kemampuan kami memang terbatas, tapi kami niat ingin membantu guru disini ketimbang sekolah ini kekurangan guru dan muridnya terbengkalai,”terangnya. Memang begitu ironis untuk untuk menggambarkan kondisi pendidikan di Kampung Yanggandur,. Betapa tidak, ketimpangan kualitas pendidikan di kota dengan di daerah sudah terjadi sedemikian rupa sehingga cerita tentang sekolah yang minim fasilitas, ruang kelas nyaris rusak atau cerita tentang guru yang lebih memilih ‘ngendon’ di kota, bukan sekadar mitos belaka. Dan hal itu lantas yang membuat para anggota TNI-AD ini tergerak hatinya untuk mengajar. Meskipun begitu, mereka tetap menunjukkan eksistensi sebagai prajurit negara yang bertugas menjaga wilayah tapal batas di negeri ini. “Tidak mengganggu tugas kami sebagai prajurit, karena tupoksi kami tetap yang utama, tapi kami juga empati dengan potret pendidikan disini,” ucapnya. Sementara itu Theresia Agnes Maturbongs, SPd salah seorang guru di SMP Persiapan Negeri Yanggandur mengaku terbantu lantaran kehadiran guru bantu dari anggota Satgas itu. Hanya saja, setali tiga uang dengan Husnen, Agnes mengatakan, pihak sekolah tidak memberikan beban mengajar khususnya bidang studi yang berat, karena harus disesuaikan dengan kemampuan para prajurit negara itu. Agnes juga bercerita eksistensi sekolah di perbatasan penuh keprihatinan, berbanding terbalik dengan kondisi sekolah di perkotaan.. “Tapi ini tantangan bagi kami bagaimana bisa melaksanakan tugas dengan maksimal di tengah keterbatasan, intinya keikhlasan dan niat tulus dari kami untuk mengabdi mengajar sehingga anak-anak di kampung ini bisa menjadi kebanggaan kampungnya kelak,”katanya. Dalam kesempatan itu Agnes juga mengatakan prihatin atas kondisi SMP ini, dimana sebagai SMP Persiapan Negeri yang sudah dibangun 2 tahun, namun fasilitas sekolah belum dipenuhi. Ia mencontohkan, ruang guru saja tidak dimiliki sehingga kepala sekolah setempat memanfaatkan salah satu ruang kelas untuk dijadikan sebagai ruang aktivitas guru sebagaimana mestinya. Selain itu, fasilitas meja dan bangku sekolah pun tidak ada, sehingga ketika semua murid masuk lengkap di kelasnya, masih ada murid yang harus duduk melantai. Padahal, kondisi fisik gedung sekolah tampak bagus dan megah, sayangnya itu hanya tampak dari luar saja. “Kasihan kalau harus ada murid yang melantai, kesannya ya kayak ada diskriminasi begitu. Padahal situasi yang memaksa seperti ini,”terang Agnes yang keseharian mengajar dua bidang studi Bahasa Inggris dan Matematika ini. Salah satu tantangan sebagai guru di wilayah perbatasan sendiri, aku Agnes, ia harus terus menerus membuka cakrawala pendidikan anak-anak tersebut. Pasalnya, masih ada anak-anak yang lebih memilih membantu orang tua mereka pergi ke dusun memangkur sagu demi memenuhi kebutuhan hidup. Namun ada motivasi tersendiri untuk menjadikan mereka seorang sarjana, mengingat di kampung itu baru tercatat satu orang anak yang kini mengenyam bangku kuliah di salah satu universitas di Kota Merauke. “Ya kita mau salahkan mereka juga tidak bisa, karena sebagian anak-anak ini mereka sebagai tulang punggung keluarga. Jadi kadang mereka pergi sekolah, tapi sebelum jam pulang mereka sudah ‘kabur’ dengan alasan ketika ditanya, mereka pergi ke dusun bantu pangkur sagu. Karena kalau tidak begitu mereka tidak makan,”katanya prihatin. Sambungnya lagi, sebagian besar anak-anak baik murid SD maupun SMP di Yanggandur kalau bersekolah tidak menggunakan sepatu alias telanjang kaki atau menggunakan sandal. Alasan anak-anak itu, kata Agnes, karena sepatu mereka tidak punya sepatu sekolah. “Tapi ada juga yang mengaku sepatunya rusak,” sebutnya Yang pasti bagi Agnes dan rekan guru ‘tentara’ banyak cerita suka dan duka ketika kelak mereka meninggalkan tempat tugasnya ini. Mulai dari menghadapi temperamen hingga kebiasaan masing-masing anak yang unik. Dan tak kalah serunya lagi, dimana masih ada anak SMP yang berusia 24 tahun. “Kalau dihitung umur segitu seharusnya sudah kelar kuliah. Tapi kita maklumlah kondisi mereka seperti ini,”ujar Agnes. (amr/***)
|