Industri Berbasis SDA Daerah Perlu Ditingkatkan

JAYAPURA – Saat ini diperlukan peningkatan pengembangan industri berbasis Sumber daya Aalam (SDA)  [ ... ]


1.500 ekor Labi-Labi Moncong Babi Dilepasliarkan

SENTANI - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dengan menggandeng pihak PT Freepor [ ... ]


Dewan : Di Sentani Timur Banyak Guru SD Malas

SENTANI - Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura Frangklin Wahey, S.Sos menemukan sejumlah guru di D [ ... ]


Jumat, 18 Mei 2012
Home Mimika KNPB Demo Tolak Kehadiran UP4B
KNPB Demo Tolak Kehadiran UP4B PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh (hdm/roy/LO1)   
Senin, 20 Februari 2012 21:56

TIMIKA—Ratusan warga yang mengakui anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menggelar aksi demo di Lapangan Timika Indah Timika, Senin (20/2012). Warga KNPB menolak kehadiran Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) di dibentuk Presiden SBY pada akhir tahun 2011 silam.

Salah seorang warga yang mengakui anggota KNPB, Antonius Yatipai mengatakan masyarakat Papua menilai Otsus telah gagal karena tidak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Hari ini warga turun ke jalan menyerukan agar pemerintah tidak perlu membentuk organisasi apapun dengan dalih ingin membangun Papua lebih baik ke depan.

" Selama ini pemerintah buat apa. Otsus dengan dana 3-4 trilun tiap tahun hanya untuk memperkaya para pejabat di Papua. Masyarakat tidak pernah merasakan hasil dari Otsus itu. Masyarakat Papua tetap pada perjuangan menentukan nasib sediri dengan cara apapun. 

Kehadiran UP4B sebagai sebuah organisasi perantara pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Papua dengan pemerintah  di Jakarta itu "lagu lama" yang ingin mengelabui masyarakat Papua. " Kami tidak mau dittipu terus menerus oleh Jakarta. Otsus kami anggap gagal, yang sudah tentu pemerintah gagal mengurus Papua. Untuk itu pemerintah harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan Otsus dan seluruh dana yang disalurkan selama ini kemana saja," terang Antonius.

Antonius meminta kepemerintah dapat mengungkap kasus-kasus korupsi  yang kini sangat marak di Papua lebih-lebih para elite pejabat mulai dari provinsi sampai ke kabupaten-kabupaten. Sejak Otsus turun, pejabat dan keluarganya setiap tahun beli mobil mewah, rumah mewah lebih dari satu. Dana Otsus yang turun ke kabupaten hanya berkisar 50-60 miliar, sedangkan yang lain kemana. Bayangkan kalau satu tahun dana Otsus ada 3-4 triliun ada banyak uang di provinsi. " Pemerintah pusat dan KPK harus mengusut penyimpanan dana APBD atau Otsus di rekening-rekening para oknum pejabat. Termasuk rekening gemuk di provinsi senilai Rp2,8 triliun harus diproses. Rakyat di daerah sangat menderita, masih pakai koteka, masih pakai cawat, sedangkan di kota pejabat dan pegawai naik mobil dan sepedam motor mewah. tidak tahu malu itu uang rakyat," sinis Antonius.

Selain itu dia juga menyoroti kinerja para kepala daerah di Papua yang selalu keluar daerah, lebih-lebih ke Jakarta. Setiap minggu ke Jakarta tidak tahu ada urusan apa. Sayang sekali rakyat boleh menderita, tapi pejabat menggunakan uang rakyat terbang kesana dan kemari. Selain itu pejabat daerah malas masuk kantor. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun masuk kantor hanya bisa hitung dengan jari.

Bila KNPB menggelar demo damai menolak UP4B itu sangat wajar karena  UP4B hadir sudah terlambat. Masyarakat Papua sudah terlanjur sakit hati, masyarakat Papua sangat marah dengan ulah pemerintah yang selalu menjanjikan "gula-gula" kepada masyarakat.

Selain itu Natalis A, mengatakan masyarakat Papua saat ini tidak bisa ditipu dengan bentuk apapun. Sejak Papua bergabung dengan NKRI selalu masyarakat menjadi obyek kepentingan pemerintah hingga muncul kasus-kasus pelanggaran HAM berat, pembangunan tidak menyentuh masyarakat sampai ke kampung-kampung, hingga masyarakat antipati dengan pemerintah. Saat ini UP4B datang dengan begitu banyak program, itu bagus dan positif tapi masyarakat Papua sudah terlebih dahulu kecewa dengan janji-jani pemerintah, kecewa dengan aksi pelanggaran hAM berat yang terjadi selama ini yang terkesan masyarakat menjadi obyek. (hdm/roy/LO1)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Editorial

Bual – Bualan Poli”Tikus”

Perdasus Pilgub masih menjadi pertentangan, masing – masing pihak bertahan dalam asumsi dan pandangan hukum masing – masing, yang menurut mereka adalah kebenaran dan atas nama rakyat, namun semuanya bermuara pada satu ajang perebutan kekuasaan demi mempertahankan kepentingan diri,  kelompok dan golongan masing – masing.
Konsekuensi dari pertentangan tersebut sudah pasti molornya pelaksanaan Pilgub di Provinsi Papua, dan sudah molor 8 bulan lamanya, tidak dapat dipungkiri akar masalah molornya itu adalah karena masih adanya pihak yang sangat berambisi untuk menjadi penguasa di atas Tanah Papua ini, demi obsesi pribadi dengan berlindung di balik nama hak warga negara, dengan memanfaatkan celah hukum dan kesemrawutan tata hukum di negara bernama Republik Indonesia ini.
Penafsiran – penafsiran hukum untuk serangkaian kosa kata yang jelas, terkadang dipelintir sedemikian rupa sehingga masyarakat dianggap tidak mengetahui apa niat dan maksud yang tersembunyi di balik itu semua.
Tapi it [ ... ]


Opini

ANEKSASI, POLITISASI DAN EKSPLORASI JARGON USANG TANPA DASAR

Anggota Kongres Amerika Serikat Eni Faleomavaega menegaskan pihaknya tidak mendukung kemerdekaan Papua, tetapi menyetujui otonomi khusus bagi provinsi itu sebagaimana Republik Indonesia memberlakukannya di Aceh. “Eni Faleomavaega, berharap pemberlakuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua secara serius dan konsisten oleh pemerintah RI,” demikian, dilaporkan anggota Kaukus DPR RI-AS Eva Kusuma Sundari dari Washington D.C. kepada ANTARA di Semarang, Kam [ ... ]


Tanggapan Berita

Kirimkan tanggapan anda Via SMS ke Nomor 081248802200 terhadap EDITORIAL Bintang Papua hari ini. Untuk tanggapan yang di nilai terbaik akan mendapatkan souveneir (Cinderamata) khas Bintang Papua. Tanggapan anda juga dapat di akses di http://bintangpapua.com

Pace Bintul