| Jembatan Miliaran Rupiah Terlantar |
|
|
|
| Ditulis oleh (hdm/roy/LO1) | ||||||
| Selasa, 21 Februari 2012 22:27 | ||||||
|
TIMIKA—Dua proyek jembatan bernilai miliaran rupiah terlantar. Atas kondisi kedua proyek itu, aparat Polres Mimika dan Kejaksaan Negeri Timika diminta segera menyelidikinya, Kedua proyek itu terletak di Kampung Kamoro Jaya Distrik Mimika Baru. Tidak jelas, apakah pembangunan kedua jembatan itu saat ini dihentikan atau akan dilanjutkan. Yang pasti, saat ini di lokasi proyek tidak ada akivitas. Pengerjaan proyek belum selesai. Di samping kedua jembatan itu juga dibangun jembatan darurat untuk dilintasi warga keluar-masuk. Pantauan Bintang Papua, kondisi pengerjaan kedua proyek jembatan SP1 itu amburadul. Tumpukan sertu ditumbuhi rerumputan. Tembok penahan sudah pada retak. Pada jembatan pertama, belum terlihat pemancangan tiang penyangga. Yang baru dilakukan kontraktor adalah pemasangan bagesting di kedua ujung jembatan. Di samping kanan jembatan terdapat jalan setapak dan jembatan darurat prakarsa buatan warga. Jalan setapak dan jembatan darurat itu hanya bisa dilintasi manusia dan kendaraan roda dua. Untuk kepentingan penerangan pelintas jalan dan jembatan, atas inisiatif pimpinan kampung dan warga ditariklah jaringan listrik dari mesjid yang yang letaknya sekira 50 meter dari jembatan.Kondisi serupa terlihat di jembatan kedua yang letaknya tak jauh dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) SP1. Yang terlihat di sana hanya pemasangan bagesting. Tiang penyangga belum ada. Sama dengan jembatan pertama, di antara bagesting (tiang pemancang untuk penyanggah beton cor-coran-red), masih terlihat kayu-kayu balok besar bekas jembatan sebelumnya. Di samping kiri jembatan ini, atas prakarsa warga di bawah pimpinan aparat kampung, dibangun sebuah jembatan darurat yang bisa dilintasi warga dan angkutan roda dua atau empat. Kayu-kayunya juga sudah pada lapuk. Bila tidak segera ditangani, diprediksi akan runtuh bila dilintasi kendaraan roda empat yang berdaya angkut berat. Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) Kamoro Jaya Isaak Mamoribo yang ditemui Bintang Papua, Selasa (21/02/2012) di Kantor Desa Kamoro Jaya mengaku sangat prihatin dengan pengerjaan kedua jembatan tersebut. Padahal, kedua jembatan itu sangat dibutuhkan warga yang hendak berjualan ke pasar. Kedua jembatan juga menghubungkan warga yang bermukim di sekitar. Berdasarkan informasi kontraktor dan pemberitaan media, menurut Isaak, pembangunan proyek jembatan pertama didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Papua, sedangkan jembatan kedua dibiayai APBD Kabupaten Mimika. Dengan mengutip pemberitaan media yang melansir pernyataan salah satu anggota DPRD Mimika, Isaak bilang, jembatan pertama yang dibiayai APBD Propinsi senilai Rp 2,5 miliar. Sedangkan jembatan kedua yang dibiaya APBD Kabupaten Mimika, biayanya tidak jelas. Selain tidak ada papan proyek sejak awal, kontraktor juga terkesan menutup-nutupi biaya proyek. Sebab, hingga saat ini, kontraktor tidak pernah menginformasikan biaya dan masa kerja proyek ke aparat kampung setempat. ”Kita minta aparat Polres Mimika dan Kejaksaan Negeri Timika segera mengusut proyek kedua jembatan itu. Massa proyek ini dibiarkan terlantar begitu saja”, tandas Isaak, Ketua Bamuskam Kamoro Jaya di lokasi. Isaak berharap pemerintah Kabupaten Mimika tidak menutup mata terhadap kedua jembatan itu. Jembatan pertama dikerjakan sudah satu tahun enam bulan terhitung pertangahan 2010. Sedangkan jembatan kedua dikerjakan sudah delapan bulan terhitung sejak pertengahan 2011. Menurut Isaak, pihaknya sudah menyampaikan kondisi kedua proyek itu ke Pemerintah Kabupaten Mimika tetapi sampai dengan sekarang tidak ada tanggapan apa-apa. “Kalau kita tanya, Pemerintah Kabupaten selalu bilang, ini proyek pusat atau propinsi. Nahh, mau proyek pusat ka proyek propinsi ka, tetapi kalau proyek itu ada dimana, pemerintah setempat kan ikut bertanggungjawab. Toh kalau sudah selesai, proyek itu kan harus diserahkan kepada pemerintah setempat”, tandas Isaak. Sekretaris Kampung Kamoro Jaya Pieter H Rumere mengatakan, akses jalan bagi warga setempat yang hendak bepergian ke pasar terputus sama sekali. Barang jualan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan harus dipikul dengan berjalan kaki jauh baru bisa mendapat kendaraan roda dua dan empat untuk mengangkutnya ke pasar. Untuk warga yang meninggal di sekitar pemukiman Kampung Kamoro Jaya bagian utara juga harus menempuh perjalanan jauh melewati jalan umum kemudian belok masuk ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (GSI) KM 8 lalu ke TPU SP1. Tetapi, pengangkutan jenazah ke TPU melalui jalur ini akan mulus kalau jembatan kedua yang letaknya tak jauh dari TPU itu tidak ambruk. “Dua jembatan itu kalau ambruk, masyarakat setempat akan mengalami kesulitan berat”, tandas Pieter. (hdm/roy/LO1)
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |



