|
JAYAPURA – Menjadi salah satu perenang yang akan membawa nama Papua diajang Pekan Olahraga nasional XVIII di Riau Tahun 2012 tentu sangat membanggakan untuk seorang Lukius Wanggai, baginya, melalui olahraga renang ini, ia ingin berbuat sesuatu untuk Papua, Lukius pun yakin bahwa, suatu saat nanti olahraga air ini dapat menjadi idola masyarakat di Papua. Lahir di Kota Jayapura pada 6 Desember 1985, Lukius Wanggai sejak kecil sudah tertarik dengan renang,”Iya dari kecil sudah senang berenang, karena memang kami tinggal dekat pantai jadi setiap hari berenang, kemudian saya berlatih secara serius dan setelah itu diturunkan sebagai atlit di cabang renang,” jelas Lukius yang juga menggemari Sepakbola dan atletik ini. Pada kejuaran Kelompok Umur (KU), Lukius adalah salah satu mengumpul emas terbanyak, bayangkan saja, sejak tahun 1993, 1994, 1995, 1996 dan 1997 Lukius selalu meraih medali emas Kejuaraan nasional Kelompok Umur, bahkan pada tahun 1996, Lukius juga berhasil meraih dua medali emas dan satu medali perak pada kejuaraan Asian School di Malaysia, raihan yang sama juga ia torehkan pada tahun 1998 dengan dua emas dan satu perak, yang tak kalah hebatnya lagi, pada tahun 2006, Lukius Wanggai mendulang medali emas pada kejuaraan Asia Timur untuk nomor 50 meter gaya dada.
Pada Pekan Olahraga Nasional nanti, Lukius berharap agar apa yang dirinya dan tim Papua harapkan kiranya dapat tercapai, untuk itulah Lukius, Nizar, dan Ester Anokio terus giat berlatih dibawah arahan Pelatih Renang PON Papua, Saharudin,”Pak Sahar buat kami adalah seorang motivator dan seorang pelatih yang sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri, beliau tahu apa yang harus kami lakukan apabila ada kendala-kendala non teknis selama persiapan,” terang Lukius. Dan untuk mengantisipasi kendala-kendala yang akan menghambat dirinya nanti, Lukius terus menerus berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan dirinya dalam latihan,”Yang jelas saya harus berusaha untuk memperbaiki diri saya dan terus berusaha untuk ada peningkatan dari latihan-latihan yang saya jalani, dan kalau non teknis mungkin lawan terberat adalah diri sendiri, kami juga berusaha untuk menekan emosi dan rasa tidak percaya diri, sehingga hal itu akan bisa diminimalisir,” tambah Lukius. Shocking dan gangguan mental hampir selalu dialami setiap perenang saat menginjakkan kakinya di start block (tempat start bagi perenang), hal itu pun pernah dialami oleh Lukius Wanggai,”Dulu saya pernah alami itu, dan saya kira seluruh perenang pasti punya cerita terkait start block, untuk itu, berlatih menata emosi dan mental akan sangat membantu kami untuk keluar dari tekanan saat berada di Start Block,” tandasnya. Dirinya berharap. Nantinya pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau, dirinya dan kedua rekannya dapat memberikan sesuatu yang berarti kepada kontingen Papua,”Apapun itu, tetapi paling tidak kami harus berusaha untuk memberikan sesuatu untuk Papua, khusunya untuk kontingen yang akan membawa nama Papua di ajang PON nanti, kami juga mohon dukungan dan doa seluruh masyarakat agar kami bisa memberikan yang terbaik selama bertanding nanti,” harapnya. (bom/bom/l03)
|