|
Manokwari- Hingga saat ini, baik Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Wondama maupun pihak kontraktor pengadaan KM. Sasar Wondama, belum menyerahkan santunan kepada dua keluarga korban, atas tragedi hilangnya kapal milik Pemkab Teluk Wondama tersebut, September 2011 lalu di Perairan Masalembo. “Kami sampai saat ini tidak diperhatikan sama sekali. Katanya tunggu penyelidikan dari polisi, tetapi sampai sekarang belum ada hasilnya. Suami kami itu bukan binatang, sehingga sampai sekarang pemda dan kontraktor ini masa bodoh atas meninggalnya suami kami,” ujar Conny Mambobo, istri Kapten KM. Sasar Wondama, dengan sedihnya saat memberikan keterangan pers Sabtu lalu di Sanggeng Manokwari. Dia menjelaskan, pencarian bangkai kapal memang sudah dilakukan, tetapi hanya satu jam saja proses pencariannya menggunakan helicopter dari Surabaya. “Kami sendiri merasa seperti tidak mendapatkan perhatian sama sekali sampai saat ini dari pemerintah daerah setempat. Padahal, suami kami itu pergi ke Surabaya untuk membawa kapal ke sini atas surat perintah Kepala Dinas Perhubungan,” tegasnya dengan linangan air mata. Sebelumnya, seperti yang diberitakan koran ini, 28 September lalu KM. Sasar Wondama yang dibeli oleh Pemerintah Daerah dengan harga senilai Rp. 1,8 miliar tersebut, bergerak dari Surabaya menuju Papua. Dalam perjalanan tersebut, diinformasikan kapal tersebut terbakar dan tenggelam. Dua staf Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Wondama, yakni George Mambobo dan Socrates Manderi, ikut serta dalam pelayaran tersebut, dinyatakan hilang dalam insiden di Perairan Masalembo Kalimantan Selatan.
Disinggung soal menunggu penyelidikan polisi, kata dia, terkait dengan kasus tersebut, Polres Teluk Wondama, sudah melakukan penyelidikan terkait dengan peristiwa terbakar dan tenggelamnya kapal itu. “Saya baru kontak Kasat Reskrim Teluk Wondama, tetapi katanya tunggu sampai ada pemeriksaan terhadap Jody Ekaputra Manibui, kontraktor pengadaan kapal tersebut. Hingga saat ini, Jody belum juga dipanggil oleh polisi. Padahal, sebenarnya polisi bisa memanggil paksa kontraktor itu,” ujarnya dengan marah. Dia juga mengakui, sejak kejadian tersebut, dua keluarga korban tersebut terus berupaya untuk melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk dengan pemerintah daerah Teluk Wondama, menggunakan dana sendiri. “Kami ke Surabaya, lalu ke Teluk Wondama pulang pergi setiap bulan untuk memastikan bagaimana nasib kami ini, hanya dengan menggunakan uang kami sendiri. Pemda sendiri tidak bantu kami sampai dengan detik ini,” akunya lagi. Dikatakan, dengan keterbatasan dana yang dia miliki, dengan tanggungan menghidupkan ketiga anaknya, dirinya mengaku, tidak mampu dengan kondisi yang dihadapinya selama ini. Untuk itu, dia berharap, pemerintah daerah maupun pihak kepolisian, segera mempercepat proses hilangnya dua staf Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Wondama ini.(cr30/don/l03)
|