Industri Berbasis SDA Daerah Perlu Ditingkatkan

JAYAPURA – Saat ini diperlukan peningkatan pengembangan industri berbasis Sumber daya Aalam (SDA)  [ ... ]


1.500 ekor Labi-Labi Moncong Babi Dilepasliarkan

SENTANI - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dengan menggandeng pihak PT Freepor [ ... ]


Dewan : Di Sentani Timur Banyak Guru SD Malas

SENTANI - Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura Frangklin Wahey, S.Sos menemukan sejumlah guru di D [ ... ]


Jumat, 18 Mei 2012
Home Papua Barat Keluarga Korban KM Sasar Belum Dapat Santunan
Keluarga Korban KM Sasar Belum Dapat Santunan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh redaksi binpa   
Minggu, 19 Februari 2012 22:19

Manokwari- Hingga saat ini, baik Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Wondama maupun pihak kontraktor pengadaan KM. Sasar Wondama, belum menyerahkan santunan kepada dua keluarga korban, atas tragedi hilangnya kapal milik Pemkab Teluk Wondama tersebut, September 2011 lalu di Perairan Masalembo.
“Kami sampai saat ini tidak diperhatikan sama sekali. Katanya tunggu penyelidikan dari polisi, tetapi sampai sekarang belum ada hasilnya. Suami kami itu bukan binatang, sehingga sampai sekarang pemda dan kontraktor ini masa bodoh atas meninggalnya suami kami,” ujar Conny Mambobo, istri Kapten KM. Sasar Wondama, dengan sedihnya saat memberikan keterangan pers Sabtu lalu di Sanggeng Manokwari.
Dia menjelaskan, pencarian bangkai kapal memang sudah dilakukan, tetapi hanya satu jam saja proses pencariannya menggunakan helicopter dari Surabaya. “Kami sendiri merasa seperti tidak mendapatkan perhatian sama sekali sampai saat ini dari pemerintah daerah setempat. Padahal, suami kami itu pergi ke Surabaya untuk membawa kapal ke sini atas surat perintah Kepala Dinas Perhubungan,” tegasnya dengan linangan air mata.
Sebelumnya, seperti yang diberitakan koran ini, 28 September lalu KM. Sasar Wondama yang dibeli oleh Pemerintah Daerah dengan harga senilai Rp. 1,8 miliar tersebut, bergerak dari Surabaya menuju Papua. Dalam perjalanan tersebut, diinformasikan kapal tersebut terbakar dan tenggelam. Dua staf Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Wondama, yakni George Mambobo dan Socrates Manderi, ikut serta dalam pelayaran tersebut, dinyatakan hilang dalam insiden di Perairan Masalembo Kalimantan Selatan. Disinggung soal menunggu penyelidikan polisi, kata dia, terkait dengan kasus tersebut, Polres Teluk Wondama, sudah melakukan penyelidikan terkait dengan peristiwa terbakar dan tenggelamnya kapal itu. “Saya baru kontak Kasat Reskrim Teluk Wondama, tetapi katanya tunggu sampai ada pemeriksaan terhadap Jody Ekaputra Manibui, kontraktor pengadaan kapal tersebut. Hingga saat ini, Jody belum juga dipanggil oleh polisi. Padahal, sebenarnya polisi bisa memanggil paksa kontraktor itu,” ujarnya dengan marah.
Dia juga mengakui, sejak kejadian tersebut, dua keluarga korban tersebut terus berupaya untuk melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk dengan pemerintah daerah Teluk Wondama, menggunakan dana sendiri. “Kami ke Surabaya, lalu ke Teluk Wondama pulang pergi setiap bulan untuk memastikan bagaimana nasib kami ini, hanya dengan menggunakan uang kami sendiri. Pemda sendiri tidak bantu kami sampai dengan detik ini,” akunya lagi.
Dikatakan, dengan keterbatasan dana yang dia miliki, dengan tanggungan menghidupkan ketiga anaknya, dirinya mengaku, tidak mampu dengan kondisi yang dihadapinya selama ini. Untuk itu, dia berharap, pemerintah daerah maupun pihak kepolisian, segera mempercepat proses hilangnya dua staf Dinas Perhubungan Kabupaten Teluk Wondama ini.(cr30/don/l03)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Editorial

Bual – Bualan Poli”Tikus”

Perdasus Pilgub masih menjadi pertentangan, masing – masing pihak bertahan dalam asumsi dan pandangan hukum masing – masing, yang menurut mereka adalah kebenaran dan atas nama rakyat, namun semuanya bermuara pada satu ajang perebutan kekuasaan demi mempertahankan kepentingan diri,  kelompok dan golongan masing – masing.
Konsekuensi dari pertentangan tersebut sudah pasti molornya pelaksanaan Pilgub di Provinsi Papua, dan sudah molor 8 bulan lamanya, tidak dapat dipungkiri akar masalah molornya itu adalah karena masih adanya pihak yang sangat berambisi untuk menjadi penguasa di atas Tanah Papua ini, demi obsesi pribadi dengan berlindung di balik nama hak warga negara, dengan memanfaatkan celah hukum dan kesemrawutan tata hukum di negara bernama Republik Indonesia ini.
Penafsiran – penafsiran hukum untuk serangkaian kosa kata yang jelas, terkadang dipelintir sedemikian rupa sehingga masyarakat dianggap tidak mengetahui apa niat dan maksud yang tersembunyi di balik itu semua.
Tapi it [ ... ]


Opini

ANEKSASI, POLITISASI DAN EKSPLORASI JARGON USANG TANPA DASAR

Anggota Kongres Amerika Serikat Eni Faleomavaega menegaskan pihaknya tidak mendukung kemerdekaan Papua, tetapi menyetujui otonomi khusus bagi provinsi itu sebagaimana Republik Indonesia memberlakukannya di Aceh. “Eni Faleomavaega, berharap pemberlakuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua secara serius dan konsisten oleh pemerintah RI,” demikian, dilaporkan anggota Kaukus DPR RI-AS Eva Kusuma Sundari dari Washington D.C. kepada ANTARA di Semarang, Kam [ ... ]


Tanggapan Berita

Kirimkan tanggapan anda Via SMS ke Nomor 081248802200 terhadap EDITORIAL Bintang Papua hari ini. Untuk tanggapan yang di nilai terbaik akan mendapatkan souveneir (Cinderamata) khas Bintang Papua. Tanggapan anda juga dapat di akses di http://bintangpapua.com

Pace Bintul